Connect with us
Header Leaderboard

Orang Tua

Dari Ditentang hingga Direstui: Kisah Nyata Anak Muda Indonesia yang Berhasil Meyakinkan Orang Tua Terjun ke Esports

Dari Ditentang hingga Direstui: Kisah Nyata Anak Muda Indonesia yang Berhasil Meyakinkan Orang Tua Terjun ke Esports

Jakarta, 17 Februari 2026 – Dunia esports di Indonesia terus berkembang pesat, dengan turnamen seperti MPL Indonesia, M7 World Championship, dan IESF Asian Championship yang semakin diakui secara resmi. Namun, bagi banyak anak muda yang bercita-cita menjadi pro player, tantangan terbesar bukanlah lawan di game, melainkan meyakinkan orang tua di rumah.

Banyak pro player top Tanah Air memulai karir dengan penolakan keras dari keluarga. RRQ Lemon (Ikhsan), legenda Mobile Legends, pernah dianggap “membuang waktu dan uang” oleh orang tuanya. Ia meyakinkan mereka dengan cara konkret: terus latihan disiplin, ikut turnamen kecil, lalu rutin mengirim sebagian hadiah uang ke rumah sebagai bukti nyata bahwa esports bisa jadi profesi menguntungkan. Akhirnya, restu datang dan Lemon kini jadi salah satu ikon esports Indonesia.

Cerita serupa dialami EVOS Sam13 (Muharrom), yang awalnya orang tuanya bahkan tak paham apa itu esports. Sam membuktikan diri lewat kemenangan turnamen lokal hingga internasional FFWC, sambil tetap menjaga nilai sekolah. Begitu juga dengan Saykots (Rizki Awandi) dari Bontang, yang merantau ke Jakarta meski ditentang—ia tunjukkan prestasi di MPL hingga orang tuanya, Budi Iskandar, akhirnya bangga dan mendukung penuh.

Advertisement
Nubia Neo 3 5G RAM 20 GB

Lebih baru lagi, Yazuke dari Alter Ego (asal Bone, Sulsel) sempat tak mendapat dukungan penuh karena orang tua mengutamakan pendidikan formal. Namun setelah melihat anaknya mewakili daerah, ikut banyak kompetisi, dan tembus Grand Final M7 World Championship 2025, ayah dan ibunya berubah pikiran. “Awalnya ragu, tapi lihat perkembangannya ada sisi positifnya, sekarang kami sangat mendukung,” ujar ibunda Yazuke dalam wawancara MPL Indonesia.

Menurut psikolog klinis anak dan keluarga seperti Rosdiana Setyaningrum (Tempo, 2022) dan Samanta Elsener (Suara Surabaya, 2026), kunci utama adalah pendampingan bijak, bukan pelarangan total. Orang tua disarankan:

  • Memahami dunia game anak (istilah, teman main, durasi).
  • Membuka akses ke komunitas atau pro player sebagai narasumber kredibel.
  • Melihat manfaat positif seperti kerja sama tim, berpikir kritis, dan ketahanan stres.
  • Tetap mengontrol agar sekolah dan tanggung jawab lain tak terganggu.

Artikel dari GGWP.id menambahkan tips praktis: riset dulu soal gaji pro player, turnamen resmi, dan dukungan pemerintah (esports masuk ke SEA Games/Asian Games). Bicara saat suasana tenang, pakai data bukan emosi, dan yang terpenting—buktikan dengan hasil nyata seperti juara turnamen kecil atau akademi esports dalam 6-12 bulan pertama.

Beberapa orang tua bahkan proaktif, seperti keluarga “Bocil Ajaib” (Rasyah/Evos Immortal) yang siapkan homeschooling agar anak bisa latihan sambil tetap belajar, atau keluarga yang seluruh anaknya jadi pro player di level internasional.

Advertisement
Nubia Neo 3 5G RAM 20 GB

Kesimpulan dari para atlet dan ahli: Esports bukan lagi “main-main”, tapi industri resmi dengan prospek karir cerah—asal anak tunjukkan komitmen, disiplin, dan keseimbangan hidup. Bagi orang tua yang masih ragu, mulailah dengan mendampingi dan beri kesempatan bukti. Siapa tahu, anak Anda bisa jadi Yazuke atau Lemon berikutnya yang mengharumkan nama Indonesia di panggung dunia.

Sumber inspirasi: detikInet, GGWP.id, DuniaGames, Tempo.co, Suara Surabaya, MPL Indonesia official, dan wawancara pro player terkini.

Advertisement
Nubia Neo 3 5G RAM 20 GB

Trending

× Fan Cooler Hp

PROMO HARI INI